Srikandi Manggala Neneng dan Metha: Kartini Memberi Inspirasi

Srikandi Manggala Agni Gustia Ningsih, atau yang akrab disapa Neneng (35), berjuang mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia tergabung sebagai anggota Daops Manggala Agni Sumatera VI/Siak, Riau, sejak 2005 silam. Ibu tiga anak yang sudah 15 tahun mengabdi sebagai anggota Manggala Agni Daops Sumatera VI/Siak. Tentu ia sudah merasakan manis pahitnya upaya pengendalian karhutla. Provinsi Riau merupakan provinsi rawan karhutla di Indonesia. Hal ini memberikan pengalaman tersendiri bagi Neneng. Tugas pokok Neneng sehari hari adalah sebagai pemantau deteksi dini.

Pantauannya meliputi wilayah Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kepulauan Meranti. Neneng juga bertugas mengatur papan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) dan mengurus administrasi kantor Daops Manggala Agni Sumatera VI/Siak. Tidak jarang Neneng ikut terjun ke lapangan untuk melaksanakan patroli pencegahan dan pemadaman karhutla.Neneng menuturkan, sosok Kartini cukup memberikan motivasi baginya untuk ikut bergerak bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan. Tanpa melalaikan dan meninggalkan tanggung jawab sebagai seorang wanita, sebagai ibu yang baik dan sebagai istri yang patuh terhadap suami.

“Kartini memberikan inspirasi tersendiri bagi saya, bahwa wanita bisa berperan dalam semua hal, termasuk dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan sebagai Manggala Agni,” kata Neneng dalam pernyatannya, Selasa (21/4/2020). "Misalkan, saat terjadi kebakaran hutan dan lahan di Siak 2019 kemarin. Kita sebagai Manggala Agni tentu harus terjun langsung untuk melakukan pemadaman karhutla sampai beberapa hari,” kata dia. Meski Manggala Agni didominasi laki laki, hal ini tidak membuatnya merasa minder. Pada saat pemadaman karhutla, Neneng juga siap berjalan puluhan kilometer untuk menuju titik api, mengangkat gulungan selang, serta memegang nozzle di depan berhadapan langsung dengan api.

“Waktu melakukan pemadaman saya pernah terperosok gambut karena kebakaran saat itu di selimuti asap yang sangat tebal," ungkap Neneng. Beban yang paling berat biasanya meninggalkan keluarga, utamanya anak. Kalau masuk hutan tidak ada sinyal handphone sehingga untuk sekedar bertanya kabar pun susah sekali. Ibu dari tiga anak ini juga berpesan pentingnya untuk memaknai Hari Kartini setiap hari. "Kaum wanita saat ini dituntut menjadi wanita yang berbudi luhur, pandai dan berani. Mereka mendapatkan hak untuk mengambil peran dalam berbagai bidang, namun tidak melupakan kewajibannya untuk merawat keluarga dan menghargai suaminya,” kata Neneng.

Selain Neneng, di Daops Manggala Agni Kalimantan III/Pangkalan Bun, Kalimantan tengah, juga muncul kartini muda lainnya yang bergerak dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan yaitu Miftahul Jannah, atau yang akrab di panggil Metha (30 tahun). Metha bergabung menjadi anggota Manggala Agni sejak 2015 lalu. Background Metha sebagai seorang perawat sangat dibutuhkan pada saat pemadaman karhutla. Pengalaman pemadaman dan berhari hari di dalam hutan sering Metha dapatkan. Bahkan perannya bertambah bukan hanya seorang pemadaman, Metha juga bersiaga untuk merawat rekan rekan Manggala Agni yang mengalami cidera saat pemadaman.

Metha juga menuturkan mereka diantara wanita Indonesia yang mengambil peran dalam kelestarian lingkungan sebagai Manggala Agni. Semoga wanita Indonesia tak pantang menyerah dan semangat untuk meneruskan perjuangannya Ibu Kartini dalam membangun negeri ini. “Saya yakin di luar sana masih banyak sosok wanita hebat Indonesia yang berjuang untuk keluarga, negara dan lingkungannya yang memIliki semangat emansipasi Ibu Kartini," ungkap Metha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *