Melihat Sejarah Masjid Huaisheng di China yang Dibangun Ribuan Tahun Lalu

Saat berkunjung ke Guangzhou, tepatnya di No. 56 Guangta Road, kamu akan melihat sebuah bangunan dengan menara masjid (minaret) setinggi 36 meter yang menjulang ke langit. Mengutip Lonely Planet, menara masjid yang telihat seperti sebuah mercusuar tersebut merupakan bagian dari Masjid Huaisheng. Masjid Huaisheng, juga dikenal sebagai Masjid Menara Cahaya atau Masjid Mercusuar, merupakan salah satu dari tiga masjid tertua di China.

Ada pun tiga masjid tertua lainnya adalah Masjid Quanzhou Kylin, Masjid Yangzhou Crane, dan Masjid Hangzhou Phoenix. Menurut Travel China Guide, Masjid Huaisheng sudah berdiri sejak tahun 627. Tepatnya pada masa Dinasti Tang sekitar tahun 618 – 907.

Pada saat itu, agama Islam diperkenalkan di China untuk pertama kali. Masjid Huaisheng dibangun oleh orang orang Arab. Arti dari nama masjid tersebut adalah “mengingat orang bijak” untuk menghormati Nabi Muhammad SAW. Sementara itu menurut China Highlight, Dinasti Tang merupakan periode di mana banyak sekali pedagang Muslim datang ke negeri tirai bambu melalui Silk Road.

Silk Road merupakan rute perdagangan yang menghubungkan negara negara Timur dan Barat pada saat itu. Kontak pertama Islam dengan China terjadi di Guangzhou. Selanjutnya, ajaran agama tersebut menyebar ke wilayah lain. Dapat dikatakan bahwa Guangzhou merupakan tempat lahirnya Islam di China. Jika sebelumnya dikatakan bahwa Masjid Huaisheng dibangun oleh orang orang Arab, tetapi konon katanya masjid tersebut dibangun oleh sahabat Nabi Muhammad SAW, Sa’ad bin Abi Waqqas.

Kendati dibangun oleh Sa’ad bin Abi Waqqas, tetapi Masjid Huaisheng bukanlah Masjid Abi Waqqas yang dipercaya memiliki makam sahabat nabi tersebut. Masjid Abi Waqqas, masjd terbesar di Guangzhou, berlokasi di 901 Jiefangbei Road dan tidak berada di area dekat Masjid Huaisheng. Kendati masih ada hingga kini, tetapi Masjid Huaisheng juga merupakan salah satu masjid tertua di dunia yang berhasil diselamatkan.

Sebab, masjid tersebut pernah dihancurkan, dan dibangun kembali selama beberapa kali seperti pada tahun 1350. Masjid tersebut kembali dibangun lagi pada 1695 setelah hancur karena api. Ada kemungkinan masjid telah melewati beberapa renovasi yang tidak tercatat waktunya.

Masjid Huaisheng memiliki gaya arsitektur tradisional China yang dipadukan dengan gaya arsitektur Arab. Beberapa bebatuan yang dipakai untuk menutupi halaman balai utama berasal dari Dinasti Ming. Kaligrafi Arab terlihat di seluruh dinding dan pilar yang ada di sana. Beberapa tulisan dalam karakter Mandarin juga terlihat.

Saat ini, beberapa bangunan yang masih berdiri dengan megah adalah Pagoda Cahaya, Balai Utama, Paviliun Wangyue, Paviliun Prasasti, ruang penerima tamu, dan lain lain. Menurut China Culture, Pagoda Cahaya atau menara masjid, terletak tepat di depan Balai Utama. Menara tersebut merupakan fitur yang paling menonjol dari Masjid Huaisheng. Para pengunjung bisa menaiki menara tersebut melalui tangga heliks. Awalnya, di atas menara tersebut terdapat sebuah ayam emas.

Namun pada 1392, patung tersebut dihancurkan oleh badai. Setelah itu, orang orang menggantinya dengan sebuah patung berbentuk seperti labu. Lampu di bagian atas menara berfungsi sebagai mercusuar bagi kapal kapal untuk bernavigasi di malam hari di sepanjang sungai Zhujiang. Balai Utama merupakan salah satu yang dibangun kembali pada tahun 1935. Terdapat beberapa ukiran khas lokal di dalamnya seperti pohon alongan (mata naga), dan pohon api (mata feniks).

Ukiran inilah yang membuat Masjid Huaisheng juga disebut sebagai Masjid Naga dan Feniks (The Dragon and Phoenix Mosque). Fitur fitur yang terdapat dalam Masjid Huaisheng Menara ini memiliki permukaan yang halus sama seperti menara lainnya dalam arsitektur Islam. Menara juga berbeda dari pagoda yang biasa ada dalam gaya arsitektur China.

Dahulu, balkon yang berada di puncaknya dijadikan sebagai tempat para muazin untuk mengumandangkan azan. Tidak hanya itu, balkon tersebut dulunya juga digunakan oleh para pelaut untuk memeriksa kondisi udara sekitar Baru baru ini, menara Masjid Huaisheng merupakan struktur tertinggi di Guangzhou dan merupakan ikon kota tersebut.

Bagi para Muslim, menara tersebut merupakan salah satu daya tarik utama di Guangzhou karena sejarahnya yang panjang dan gaya arsitekturnya yang khas. Masjid ini terkenal akan gaya arsitekturnya yang memadukan gaya arsitektur lokal dengan Arab. Di dalamnya, terdapat sebuah koridor di pintu masuk yang menuju ke halaman. Halaman tersebut dipenuhi oleh berbagai macam tanaman dan pohon. Tidak jauh dari sana, terdapat ruang salat yang dibangun dengan bata merah.

Pintu masuknya merupakan sebuah pintu melengkung. Tepat di kedua sisi pintu terdapat tanda berwarna hijau yang memiliki kata kata dalam bahasa Arab dan ditulis seperti karakter Mandarin. Saat masuk ke dalamnya, kamu akan melihat langit langit ruang salat yang terbuat dari ubin dengan perpaduan warna biru dan hijau yang memberi kesan hangat di area tersebut. Selain sajadah, ruang salat tersebut juga dipenuhi oleh kaligrafi Arab di dindingnya. Keindahan di dalamnya hanya boleh dilihat oleh orang Muslim karena umat agama lain tidak diperbolehkan untuk masuk.

Kendati demikian, mereka masih bisa menikmati keindahan Masjid Huaisheng selain ruang salat. Terletak di barat daya ruang salat adalah sebuah prasasti kuno yang ditaruh di sebuah paviliun. Prasasti tersebut merupakan replika dari prasasti asli yang disabotase saat terjadi revolusi budaya. Berdasarkan tulisan yang tertera pada prasasti tersebut, Masjid Huaisheng pernah terbakar dalam sebuah kobaran api besar pada tahun tahun terakhir Periode Yuan Zhengkui.

Namun, masjid tersebut dibangun kembali oleh seorang jenderal Muslim pada tahun ke 10 periode tersebut (1350). Selain prasasti kuno, ada juga buku buku Islam yang berada di salah satu area di masjid. Buku buku tersebut terdiri dari beberapa majalah dan Al Quran. Area tersebut kerap dikunjungi oleh para imam dan pelajar Muslim dari provinsi lain di China.

Masjid tersebut memiliki sebuah plakat yang diberikan oleh Kaisar Guangxu dari Dinasti Qing (1901). Plakat tersebut bertuliskan “Jiao Chong Xi Yu” yang berarti “Islam datang dari Mekah Barat”. Plakat tersebut juga memiliki cap Kaisar Guangxu. Konon katanya, empat kata yang terdapat pada plakat tersebut ditulis oleh Ibusuri Cixi yang juga dikenal dengan Ibusuri Barat oleh masyarakat di China.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *