Belajar dari Kasus Pelecehan Siswi SMK, Kenali 5 Tipologi Kekerasan di Lingkungan Sekolah

Terkait kasus pelecehan dan perundungan yang menimpa seorang sisiwi SMK di Bolaang Mongondow, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto memberikan pandangannya. Pertama dirinya mengingatkan kembali sejumlah aturan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan tindak kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Seperti yang diamanatkan dalamUndang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Permendikbud 82 tahun 2015.

Susantojuga menegaskan betapa pentingnya satuan pendidikan mampu melakukan deteksi terhadap peserta didik di ketika berada di lingkungan sekolah. "Harus melakukan deteksi dini apakah anak ini potensial menjadi korban atau anak ini menjadi pelaku," ujarnyadikutip dari tayangan YouTube KompasTV, Kamis (12/3/2020). Susanto melihat adanya lima tipologi yang dapat menggambarkan potret kasus kasus penyimpangan di lingkungan satuan pendidikan maupun di dalam komunitas anak.

Pertama, menurutnya tipologi adalah kekerasan secara terbuka, dimana kekerasan biasanya dilakukan secara berkelompok. "Seperti tawuran dan sebagainya bullying bisa juga antara group dengan group yangsering terjadi. Kasus ini dilakukan tidak satu orang tapi secara berkelompok dan dan itu terbuka," katanya. Kelompok keduakekerasan dengantipologi yang mana dilakukan secara perseorangan.

Biasanya berupa ancaman di suatu tempat tertentu "One by one," tegasSusanto Sedangkankekerasan agresif menjaditipologi yang ketiga.

Susanto mencontohkan kekerasan ini seperti memalak teman sebaya baik barang atau hal lainnya. Tipologi kekerasan keempat adalahdefensif yang mana dalam banyak kasusanak terpakas melakukan kekerasan untuk melindungi dirinya dari suatu ancaman. "Terakhir tipologi kekerasan yang secara insidental. Bentuk ini serkiang kali terjadi karena terkondisikan olehlingkungan"

"Anak mencoba becanda sebagai respot dan kemudian melakukanbullying atau kekerasan terhadap temannya," beberSusanto. Melihat limatipologi kekerasaan di atas,Susanto berjanji akan melakukan koordinasi untuk memastikan motifdi balik kasus pelecehan dan perundungan yang menimpa seorang sisiwi SMK di Bolaang Mongondow ini "Yang penting di dalami adalah, apakah ini anak anak sering melakukan hal tersebut sehingga dianggap bercanda"

"Atau karena hal lainnya. Dan kasus ini segera diselesaikan sebagai bentuk upaya perbaikan pelayanan pendidikan," tutupnya. Ketua Asosiasi Psikologi Forensik, Reni Kusumowardhani mengatakan kasus tersebut harus diperhatikan secara seksama sehingga mengetahui secara pasti penyebab pelecehan dan perundungan tersebut. "Kita lihat ini dilakukan oleh remaja. Di mana perundungan ini dilakukan secara bersama sama," ujarnya.

Reni memandang remaja pelaku kasus tersebut dalam masa fase iseng, yang mana membuat mereka dimungkinkan melakukan hal iseng iseng lainnya. Baik di lingkungan masyarakat bahkan saat berada di sekolah. Sehingga dirasa perlu untuk membuat sistem pengendali penekan dorongan remaja untuk berperilaku iseng.

"Anak anak ini memang di fase iseng, banyak keisengan yang sangat mungkin dia lakukan, sehingga yang paling diperlukannya sistem kendali," tandas Reni. Reni melanjutkan, rasa iseng tersebut mungkin berasal dari kebiasan dalam keseharian masyarakat saat ini. Ia memisalkan saat orang lain terpeleset atau jatuh, bukan pertolongan tapi sorakan kegembiraan yang diberikan.

"Kita lihat orang jatuh teriak hore dan diketawain. Melihat orang menderita jadi bahan tertawaan" "Ini bisa menjadi pencetus keisengan keisengan lainnya. Mungkin betul tujuan para pelaku untuk sekedar bersenang senang saja," imbuh Reni. Reni menekankan apa yang diyakini oleh pelaku tentu tidak sama dirasakan oleh siswi yang menjadi korban pelecehan dan perundungan.

"Ada empati yang dilupakan di sini, mereka lupa bahwa korban ini akan begitu sangat menderita," tuturnya. Untuk itu Reni meminta semua pihak yang berkepentingan untuk melakukan penulusuran secara mendalam. Sehingga akan diketahui secara jelas motif pelaku melakukan hal tercela tersebut.

"Pelaku anak anak apa memiliki kecenderungan agresivitas seperti itu" "Atau memang ini konformitas remaja yang kurang teladan, kurangnya perkembangan rasa empati" tegasnya. Lihat pernyataanKetua Asosiasi Psikologi Forensik, Reni Kusumowardhani danKetua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto di

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *